Apakah ini yang dinamakan dengan barokah?

Hari kedua merangkai rumah tangga dan membangun cinta. Alhamdulillah berbagai kemudahan-kemudahan datang silih berganti. Dari mulai proses saya dengan intan ta’aruf, lamar (personal), khitbah, hingga penentuan tanggal serasa begitu dimudahkan olehNya.

Tidak hanya sampai di situ, bahkan ketika akad berlangsung kemudahan itu masih saya rasakan. Apa itu? Jujur saja, H-1 saya masih ngantor, malah masih bagi-bagi undangan *gak dipingit euy hihihi. Sampai di rumah pukul 23.00. Belum kefikiran tentang bagaimana pengucapan untuk kabulnya (ijab itu wali perempuan yang mengucapkan, kalau kabul si mempelai pria yang mengucapkan, dalam akd nikah). Yang ada sampai rumah masih harus beres-beres lagi. Lalu bertemu dengan sodara yang kebetulan sekaligus menjadi penghulu saya. Hanya diberi tahu sekali, “Saya terima nikahnya Intan Kartika Sari binti David, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”. Setelah itu gak menghafal lagi.

Continue reading

The story is begin!

Kok bisa sih kita nikah? ya.. karena TAKDIR! haha..

“Gak nyangka!”, mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kita rasakan sekarang, karena yang awalnya gak saling kenal, lalu menjadi sahabat, dan tiba-tiba akan menjadi belahan jiwa satu sama lain seumur hidup nanti (aamiin). Kalau sudah menjadi episode terindah yang dikasih Allah SWT pada kami, ya.. mana mungkin kami tolak, right? hehe.. :D

Kalau dirunut kisah kenapa kami bisa kenal dan akhirnya (insyaAllah) menikah, begini ceritanya kawans:

Continue reading

Jadi pager alus tak se-alus pantopel

Baru beres jadi page bagus jam 2, terus ngobrol ngalor ngidul di mushola bareng Mail, Intan, Midy, Ajeng, sama Uroh. Pada capek, lelah, leuleus dan sodara-sodaranya. Sekalian nunggu sholat ashar. Baru ngeuh, sepatu pantopel saya ketinggalan di belakang gedung. Pas dicari, tidak ada euy :( . Mudah-mudahan tadi sudah diambil teman atau si ibu-ibu rias. Biar bisa dipakai nanti pas wisudaan hehe.. :lol:

Pas dijalan hujan, untungnya deket kantor. Jadi nyimpang heula ka kantor, buat neduh. Tadi Alhamdulillah bisa ketemu teman-teman lama terutama di karisma, ada Bude (Deti), Buru (Ruri), plus Bumi (Ami). Kalian kapan mau nyusul Gita (yg nikah)?! hahaha.. :lol:

Sekarang lagi di kantor, lagi nunggu ujan reda. Tapi, nanti Magrib ada rapat lagi buat nikahan sodara besok –minggu, sekarang sabtu, kemarin jumat. Mudah-mudahan badan buat besok gak ngedrop. Semangat!!! :roll:

Barakallahulaka Wabaraka’alaika Wajama’a Bainakumaa fii Khair, buat pasangan baru Gita dan Dikdik :) Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah dan saya cepat nyusul *eh?!

nb: pengen unggah foto-fotonya. Kayanya nanti saja, musti dipilah-pilih dulu.

source image: stampotique.com

Kisah Cinta dan Perkawinan Menurut Plato

Postingan ini sudah lama beredar di internet, tapi daripada nanti saya nyari-nyari lagi. Jadi lebih baik saya salin saja postingannya, gak apa-apa kan?! hihihi.. Mudah-mudahan ini menjadi inspirasi bagi siapapun yang sedang berikhtiar untuk menemukan pasangan hidupnya.


Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.

Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan?

Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini.

Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

CATATAN – KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Keselek air, obatnya kerupuk!

keselek air

Pernah keselek? Nah.. ini foto keselek air, sebagai penawarnya makan kerupuk! ahaha.. boong deng.. :lol:

Continue reading

Celotehanku